Friday, October 25, 2019

Kemboja Kenangan


Pagi ini rasa senangku sempurna. Pohon yang kusiram setiap pagi sebelum berangkat bekerja, akhirnya berbunga lagi setelah  sekian lama hanya dihuni dedaunan hijau. Dua kuncupnya mulai mekar dengan semburat warna merah jambu.

Ibu menyebutnya Kemboja Jepang. Suamiku bilang,”Itu namanya Adenium”. Dua nama berbeda untuk sebatang pohon bonsai berbunga merah putih itu. Pohon itu tanaman istimewa buatku.Tanaman setinggi setengah meter itu diberikan ibu saat aku menghuni rumah kontrakan seminggu setelah aku menikah.

“Pohon ini buat penanda rumah kamu.” Ujar Ibu kala datang membawa dua buah pot tanaman, sebuah pot berisi bougenville dan pot yang lain bertengger si kemboja jepang. Saat itu aku tinggal di sebuah cluster berjumlah 40 unit rumah berlantai 2 yang sama bentuknya. Dalam satu deret terdapat delapan rumah berwarna sama. Walaupun sudah ada nomor rumah dengan kode huruf, seringkali keluarga yang datang agak bingung mencari rumah yang dimaksud. Jangankan orang lain, aku sendiri pernah hampir masuk rumah tetangga yang kukira rumahku. Pohon bougenville dan kemboja jepang itulah penanda supaya tidak lagi salah masuk rumah orang. Sayangnya, karena jarang kusiram, bougenville akhirnya mengering kemudian mati. Berdosanya aku.


Delapan tahun lebih berlalu, si kemboja jepang masih bertahan. Sejak pindah rumah tiga tahun lalu, baru dua kali ini dia berbunga lagi. Hal yang kusukai dari si kemboja, bunganya selalu bermunculan silih berganti dan mekar agak lama. Karena itu aku sempat sedih hati melihatnya lama tak berbunga. Dan begitu senangnya melihat si kemboja jepang “alias” adenium, bunga kenangan dari almarhumah Ibu mulai berkembang lagi. Bahagia itu sederhana dan indah.


Bambu Apus, 26102019, 05.00

Saturday, June 15, 2019

#1_ Panggilan Telepon Dari Ibu


#Tantanganmenulis100hari



Ibu. Setiap Sabtu menelponku. “Ibu masak makanan kesukaan kamu lho..sop iga kacang merah. Jam berapa kamu mau ke rumah?”

Aku. Memasukkan cucian ke mesin pengering, “Liat nanti ya, Bu. Aku jemur baju dulu ya. Nanti aku ke Pasming” Pasming itu singkatan dari Pasar Minggu, sebuah kecamatan di Jakarta Selatan, tempat tinggal orangtuaku dan delapan anaknya hingga satu persatu kami meninggalkan rumah setelah menikah.

Ibu terkadang menelponku saat hari kerja, pagi hari atau tengah hari saat jam istirahat. “Kamu lagi sarapan ya, Mba? Sarapan lontong sayur ya?” Tebakan yang tepat. Aku langsung mengiyakan. ”Hati-hati lho kolestrol. Kamu ga bole makan yang bersantan. Harus dikurangi”. Aku lalu menawar, “Kalo sarapan nasi uduk boleh ya?” Ibu tertawa,”Itu ada santannya juga”.

Awalnya, Ibu menelponku jam berapapun Ibu mau. Kemudian Ibu menyimpulkan sendiri,”Kalo telpon Mba Ita harus pas jam istirahat kantor, soalnya dia ga bisa diganggu kalo lagi kerja,”.
Ibu yang gesit perlahan melemah. Ibu tidak lagi punya kekuatan untuk  beraktivitas keluar rumah. Di Bulan Desember tahun lalu, Ibu dua kali opname di rumah sakit. Dokter bilang ada infeksi tapi sumbernya belum diketahui.

 Hari ini Hari Sabtu. Ibu tidak lagi menelponku. Ibu sudah di rumah abadinya. Tepatnya sejak hari Jum’at tanggal 4 Januari 2019. Jauh hari saat kesehatan Ibu nampak semakin menurun, entah mengapa aku merasa harus menyiapkan diri. Aku bersiap diri takkan lagi mendengar suara Ibu menelponku di Sabtu pagi. Saat Ibu harus lebih sering berbaring, aku bersiap diri tak lagi menikmati masakan Ibu yang enak-enak itu.
Walau tak lagi melihat sosok Ibu dan mendengar suaranya, aku merasa Ibu selalu ada. Ibu tak pernah pergi.

                                                                                                                        BambuApus, 15 Juni 2019

Note : Beberapa tahun lalu, aku pernah tulis puisi buat Ibu. Judulnya “Ibu, Yang Selalu Ada”. Puisi itu sempat kubacakan di depan Ibu. Sayangnya, puisi itu entah di mana kusimpan. Semoga catatannya bisa ketemu supaya bisa kuposting. Seperti isi puisi itu, Ibu sungguh selalu ada, bahkan saat aku sekarang hanya bisa melihat pusaranya.


Saturday, August 8, 2015

MENAKLUKKAN SANG WAKTU



I am a procrastinator. Harus kuakui itu karena begitulah adanya. Buktinya? Semua target penting dalam hidupku selalu tak bisa kutepati. Target lulus dari usia 24 tahun menjadi 26 tahun. Target kerja dari umur 24 tahun menjadi 30 tahun. Target menikah dari usia 26 tahun menjadi 38 tahun. Kukira waktu adalah musuhku, lawan yang harus kutaklukan. Tapi nyatanya akulah sesungguhnya yang kuhadapi. Akulah musuh bagi diriku sendiri.

Apa rencanamu besok? Pertanyaan ini selalu bisa kujawab dengan sederet kegiatan yang akan kukerjakan esok hari. Namun selalu ada target kegiatan utama yang tak kujalankan. Ada saja kegiatan yang kemudian tak kulakukan sesuai rencana semula. Aku seringkali merasa lelah harus menghadapi kegagalan memenuhi target. Selalu berulang. Seperti kedelai bodoh yang terjatuh ke lubang yang sama, untuk yang ke sekian kalinya.

Contohnya hari ini. Target utamaku adalah pergi ke dokter mata untuk konsultasi perihal lemak yang tumbuh di dekat mata kananku. Sehari sebelumnya aku sudah mencatat jadwal praktek dokter mata di Rumah Sakit Haji Pondok Gede. Ada 2 jadwal di hari Sabtu, Pukul 08.00 s/d 12.00 dan pukul 15.00. Rencana awal aku akan datang pada jadwal pagi tersebut. Namun mengingat urusan cuci pakaian yang belum selesai karena aliran air yang tiba-tiba terhenti, akhirnya rencana ke dokter mata tertunda.

Ada target lain lagi, pergi belanja ke PGC untuk mencari jilbab, kemeja putih, dan sepatu hitam. Lagi-lagi batal karena aku memilih tidur siang setelah lelah membereskan rumah. Makan siang pun jadi mundur sore hari pukul setengah lima  karena aku baru masak nasi pukul 3 sore. So, pekerjaan yang dapat kuselesaikan hari ini hanya mencuci dan menjemur pakaian, menyapu dan mengepel ruangan di lantai 1, buang sampah, belanja keperluan rumah tangga di mini market dekat rumah dan masak nasi.

Tapi seperti kalimat bijak, tak ada kata terlambat. Aku harus memperbarui niat setiap detik. Esok hari target pekerjaan yang tertunda hari ini harus kukerjakan, kuselesaikan. Semoga hari esok lebih baik agar aku tidak menjadi orang yang merugi. Semangat!

Thursday, November 7, 2013

JALAN-JALAN BERDUA.....(SINGAPURA-1)

Hi,

Kini saatnya gembira....
Liburan ke Singapura

Setelah menanti berbulan lamanya, akhirnya kesampaian juga pergi agak jauh, berdua saja dengan suamiku.
Excited banget deh. Ini kisahnya...

KISAH KEBERANGKATAN
Berangkat menuju bandara pukul 06.00 Wib, naik taxi karena mengejar waktu check in pukul 7 pagi, untuk pesawat yang berangkat jam 09.00 WIB. Awalnya suami pengin naik Damri, jauuuh lebih murah, cuma 60 ribu berdua. Tapii, berhubung aku khawatir terlambat tiba di Bandara, kuusulkan untuk naik taxi saja dari Keramik, ada pool Blue Bird di situ. Suami mengalah...:). Ongkos taxi kurang lebih 180 ribu...mahal ya..:(. 
Tips : Berangkat lebih pagi agar bisa naik Damri di Kampung Rambutan yang berangkat pukul 06.00.

Tiba di Bandara pukul 6.30 WIB. Buatku ini waktu yang tepat untuk sarapan. Bukan 'tepat' tapi 'wajib'. Pilih  di depan mata : hokben kesukaanku. Suami cuma makan kebab menu semalam. Dengan alasan itu, aku beli hokben satu porsi saja, karena kalo beli 2 porsi, yakin ga bisa ngabisin jatahku. Nah, suami dapat sisa makanku, seperti biasa :)....(Ceritanya, makan sepiring berdua..hehe).

Sudah sarapan rasanya legaa banget....karena di pesawat Tiger Mandala jurusan Jakarta Singapura, ga ada makan gratis..harus beli di pesawat yang harganya berlipat-lipat.

Dengan tenangnya melangkah masuk ke terminal keberangkatan internasional di Terminal 2. Saat kucek layar informasi, tidak ada no penerbangan kami. Waaah....salah terminal nih. Cepat kutanya petugas,"Tiger Mandala di Terminal 3, Bu. Naik Shuttle bus saja," Dia menunjuk bis kuning yang melintas.  Segera kuberitahu suami dan kami berdua agak berlari mengejar bis itu. Untung bisnya masih berhenti menunggu penumpang. Inilah keuntungan datang lebih awal. Saat salah turun terminal masih ada waktu menuju terminal yang tepat.
Tips : Tanya Airline yang bersangkutan untuk memastikan terminal keberangkatan.

Saat masuk ruang tunggu, melewati pemeriksaan paspor. Perlu diingat, ada larangan membawa minuman/cairan, so aku harus menenggak habis air mineral di botol kecil yang kubawa, sebelum meletakkan barang di mesin X Ray.
Tips : Untuk orang yang gampang haus sepertiku, bawa air mineral di botol kecil saja, supaya bisa dihabiskan sekali tenggak :)

"Waktu nunggu waktu boarding, ketemu teman kuliah yang pergi bersama keluraganya dengan pesawat yang sama"



Lanjut yaa...








Wednesday, October 30, 2013

MENGELUHLAH

Ini sesiku untuk mengeluh

Sebulan terakhir kepala pusing di satu titik, sebelah kanan
Dua hari terhari, mual menyerbu

Ada hari terasa rileks
Kemudian tergopoh

Kemarin,
Pusing kepala berada di titik lain,
Bagian belakang, masih di sebelah kanan juga

Hanya masuk angin
Hibur hati menenangkan

Namun,
Kenapa jantung juga berdegup?
Mengapa mual datang lebih sering?

Dua hari terakhir
Tak bisa lagi menatap layar hp berlama-lama dalam kendaraan

Sungguh
Mengganggu

Apakah ini
Sebuah sinyal?

Berharap hari ini
Lebih sehat saja

Ceria kembali
Siap untuk jalan-jalan
Ke negeri singa
Hanya berdua :)



Tuesday, August 13, 2013

MENGAPA MEMILIH KERJA KANTORAN?

Tak pernah terlintas di kepalaku untuk bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil walaupun ayahku seorang PNS di Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama). Melihat jadwal kerjanya yang rutin, pergi pagi pulang sore, aku sama sekali tak tertarik menekuni hal yang sama. Kalimat yang terpikir selalu: “Apakah tidak bosan ya di kantor seharian?”

Saat lulus kuliah dari Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, pekerjaan yang kuinginkan adalah menjadi seorang penulis lepas. Menulis dan mengirim naskah ke media cetak menjadi kegiatan rutinku setelah lulus kuliah. Dari sekian banyak cerpen dan puisi yang pernah kukirimkan, hanya ada 2 cerpen dan 2 puisi yang dimuat di 3 majalah remaja. Ternyata tak gampang menembus jagad penulisan. Tapi aku tak terpikir untuk berhenti hingga suatu ketika...

Ibu mengajakku bicara. Beliau memintaku bekerja kantoran. Wah, ini sesuatu permintaan yang serius kupertimbangkan. Alasanku hanya satu, Ibu terlalu banyak memberi untuk anak-anaknya. Sementara aku merasa tidak bisa membalas semua pengorbanan Ibu. Aku kembali mengirimkan lamaran, kali ini sangat selektif mengingat pengalaman menulisku yang minim. Seluruh lamaran kerja yang kukirim terkait dengan penerbitan dan  script writer.

Sambil menunggu respon lamaran, aku menjalani hari demi hari dengan tenang. Sore hari kursus Bahasa Inggris, pagi hingga siang hari membantu mengajar di sebuah Taman Kanak-Kanak. Suatu hari, sepulang aku mengajar, salah seorang adikku memberi informasi. Ada sebuah lowongan kerja yang diumumkan di sebuah media nasional. Apa  itu?  Penerimaan  CPNS di Departemen Perhubungan (sekarang Kementerian Perhubungan). Wuih, PNS? Aku tak tertarik sedikitpun. “Kenapa gak lu aja yang ngirim lamaran?” Elakku. Jawabannya membuatku berubah pikiran,”Tidak ada lowongan untuk lulusan Teknik Industri di Departemen Perhubungan. Kalo ada, aku pasti kirim lamaran,”....Nyes...Hmm (tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata).

Adikku ini langsung menghubungi temannya yang berlangganan koran tersebut untuk mencari informasi mengenai persyaratan lamaran. Mempertimbangkan dukungannya, aku kemudian membuat surat lamaran, dan mengurus berbagai persyaratan lainnya. Di hari terakhir sesuai stempel pos, aku menuju kantor pos.  Aku masih mengingat hari itu. Begitu kelas bubar, tergopoh-gopoh aku meluncur menuju 3 lokasi.  Ambil pasfoto dan ijasah kursus Bahasa Inggris lalu ke Kantor Pos. Di Kantor Pos berdesakan dengan banyak orang lain yang juga mengirim lamaran kerja. Seorang wanita sempat menanyakan tujuan suratku dan meminta persyaratan lamaran. Rupanya dia sudah menyiapkan beberapa berkas lamaran. Ia membuat surat lamaran di tempat, mencantumkan tujuan surat, dan mengirimkannya. Ckck...usahanya patut diacungi jempol.

Beberapa minggu kemudian, aku mendapat panggilan menjalani tes CPNS di Departemen Perhubungan. Di hari H, jam 6 pagi aku sudah berada di lokasi ujian. Saat berada di bangku ujian, kulihat betapa banyaknya pelamar dari jurusan Komunikasi. Aku berkenalan dengan seorang peserta di sebelahku. Kami menghitung jumlah “saingan” di sekitar kami. Wah, ada sekitar 200 orang. 
“Hanya diambil 2 atau 3 orang,”Keluh teman baruku (aku lupa namanya..).
“Ha?Masa?” Bisikku.
“Iya, di koran kan tertulis begitu,”Tegasnya. Walah...aku kan ga baca iklan langsung dari koran. So, aku tak terpikir akan lolos. Biarlah ini menjadi koleksi pengalamanku melamar pekerjaan.

Namun perjalanan hidup tak bisa ditebak. Aku menjadi satu dari sepuluh orang alumni Komunikasi yang lulus tes pertama tersebut.. Tes berikutnya adalah tes wawancara, TPA, dan tes Kesehatan. Alhamdulillah, aku lulus lagi. Kali ini hanya menyisakan 2 orang. Aku sangat bersyukur karena tak menduga dapat lulus ujian demi ujian. Tak punya ‘channel’, tak mengeluarkan uang sepeser pun di luar biaya tes kesehatan. (Hmm, rugi juga ya peserta lain yang sudah mengeluarkan biaya tes kesehatan).

Akhirnya....di sinilah aku, di Bagian Umum dan Organisasi-Ditjen SDPPI Kemkominfo, selama kurang lebih 9 tahun. Adakalanya merasa jenuh dan lelah. Saat seperti itu, aku mengingat kembali ‘alasan’ mengapa aku bisa berada di sini. Perjalanan itulah yang membuatku bertahan bekerja kantoran. Banyak-banyaklah bersyukur karena Allah sudah memberi kenikmatan tak terkira melalui pekerjaan ini. Aku menganggap pekerjaaan ini sebagai ibadahku. Semoga Allah selalu melindungiku....

Jakarta, 14 Agustus 2013
Tulisan ini dibuat terinspirasi oleh tulisan Kang Benny Rhamdani  “Kerja Kantoran? Oh, No!”

Wednesday, January 30, 2013

BE PRODUCTIVE

Be productive....at least in posting a new story :).

New Year has come. I wanna make this year has more meaning in my journey's life.

Last year, I think I only posted one article in my blog. For a woman whose passion is publishing novel, I wasn't  productive. Starting today, I promise myself to post at least one article every month. 

Yesterday, I bought two interesting books. A motivation book and a true story book. The first entitled "Be Happy at Work"... While the last is the number one bestseller (in the world?). I always get attracted with the bestseller books. It' talks about someone's true story. 

I will tell you what I get from the books later.

Actually, I wanted to buy  new shoes. So, I come by to mall after work. But, what I got? two books filled in my big bag and no shoes....






Sunday, October 14, 2012

CANGGUNG

Hari Senin yang belum sibuk,

Hmm, mengawali posting pertama di blog baru. Rasanya seperti...menata isi sebuah rumah di kompleks baru. Belum kenal tetangga kiri kanan. Masih meninggalkan berbagai kenangan foto2 di "rumah" lama. 
Membayangkan akan seperti apa hari-hari di "rumah" baru ini.  Ada perasaan canggung yang menyergap. Entah kenapa....

Merasa sendirian....hehe....

Aku sudah merasa nyaman "curhat" di Multiply. Tidak pernah memikirkan siapa yang akan membaca tulisanku....menikmati setiap detik mengetikkan huruf-huruf hingga sebuah tulisan menemukan titik akhir. Merasa bebas menulis, lepas menuangkan kata-kata....bebas membaca tulisan tetangga2 di MP. 

Hmm.....membuncahkan kembali semangatkuu..untuk menulis dan juga membaca....di rumah baruku ini : www.nawafil2012.blogspot.com






Friday, July 20, 2012

KAPAN PERTAMA KALI JADI MC?


Setelah kuingat-ingat, ternyata aku pertama kali jadi MC waktu acara malam hiburan dalam rangka 17 Agustus 1996, saat KKN di Tasikmalaya...waaah, sdh lama juga ya...Aku ditunjuk teman-teman karena aku satu2nya mahasiswa jurusan Komunikasi di kelompok kami. Walaupun belum pernah jadi MC, tapi waktu itu aku bersedia saja.

Setelah itu, ikut pelatihan MC yang diadakan oleh Organisasi Wanita, tahun 2003. Hari pertama pelatihan, mendengarkan paparan narasumber. Hari kedua langsung maju satu persatu untuk praktek. Dari sekitar 60-an peserta, aku mendapat rangking 17..heheh...waktu itu kupikir lumayan buat nambah pengetahuan.

Ternyata dalam perjalanan kemudian, aku jadi MC juga di kantor, sejak pertengahan tahun 2005 sampai hari ini. Sempat terhenti 2 tahun karena aku melanjutkan kuliah di Australia tahun 2007 s/d 2009. (Kemarin abis MC acara pelepasan pegawai yang memasuki masa purna bhakti).

Tanggal 10 Juli lalu, aku berpartisipasi dalam Lomba MC yang diadakan Kementerian ku. Dapat juara Harapan Satu! (kata suamiku, itu mah bukan juara). Jawabku, lumayan kan pesertanya ada 19 orang..hehe.

Hmm, ternyata dalam hidup banyak hal yang tidak kita duga sebelumnya bakal terjadi. Mana pernah aku kepikiran jadi MC. Kalau jadi dubber, wah aku pengeeen banget. Belum pernah coba sih. Jadi dubber adalah hal yang aku pengen coba sejak awal kuliah. Paling enggak, bisa jadi pengisi suara di iklan atau di pelayanan publik seperti suara di Busway itu lho  Kapan ya kesempatannya? 

Aku bukan MC profesional, banyak kekurangan. Tapi tetap semangat untuk belajar jadi MC profesional. Karena itu, aku menerima berbagai macam saran, kritik membangun dari siapa pun. Kapan-kapan aku akan sharing pengalamanku jadi MC, terutama soal kesalahan-kesalahan yang pernah kulakukan...hehe..


20 Juli 2012


Sunday, May 29, 2011

KATA-KATA BIJAKKU

Ketika aku masih pelajar SMP, aku memiliki Buku Kumpulan Kata-kata Bijak. Salah satu favoritku adalah ucapan Bung Hatta: "Berusaha mengisi kekurangan adalah keberanian yang Luar Biasa".  Entah mengapa, aku saaangaat 'terpesona'dengan kalimat ini.

Menurutku kalimat itu maknanya dalaam. Sebagai seorang anak SMP, aku berusaha mengartikanya.  Seperti ini: Setiap orang punya kekurangan. Kekurangan itu bisa diperbaiki. Proses perbaikan itu merupakan perjuangan, yang tidak mudah dilakukan.

Kalimat Bung Hatta itu sangat menginspirasiku untuk meminimalisir kekurangan yang kumiliki. Betul=betul sulittt, tapi sesuatu yang sulit, bukan berarti tidak mungkin dilakukan.

Aku sering berpikir, dari mana ya orang-orang memperoleh kalimat-kalimat bijak itu.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, aku MENEMUKAN kalimat bijakku sendiri. Hidup adalah Keikhlasan untuk Bertanggungjawab. Dan baru-baru ini aku kembali menemukan satu kalimat baru : Lebih baik dianggap tidak bisa, tapi sebenarnya kita bisa. Daripada sebaliknya.

Sungguh, perjalanan hidup memperkaya diriku dengan pengalaman-pengalaman.

Saturday, April 23, 2011

MENIKMATI EPISODE BARU

Tahun 2011, sudah menyusuri bulan ke-empat. Besok tepat empat bulan kami (me and my husband) melangkah bersama. Menjalani hari-hari berdua saja di rumah kontrakan. Rasanya lucu (tapi seru juga), begitu menikah,langsung tinggal serumah, dimana ga ada orang lain, selain si dia . Pekerjaan rumah apapun diusahakan dibagi-bagi.

Kegiatan pertama yang tidak beres-beres sampai detik ini adalah: merapikan rumah. Berhubung masih ngontrak, dan bertekad akan pindah ke rumah sendiri tahun depan (Insya Allah), sebagian barang-barang masih dalam kotak kardus. 

Karena berpikir akan pindah rumah tahun depan itulah, kami belum membeli perabot besar-besar. Pertimbangannya, supaya tidak terlalu repot urusan memindah2kan barang kelak. Akibatnya adalah barang-barang kecil berceceran di sana-sini. 

Rumah jadi belum keliatan rumah beneran nih. Maksudnya keliatan ada penghuninya sehingga teratur, rapi, sesuai fungsi ruangan gitu. Bahkan baru minggu lalu, foto penganten dipasang di dinding (yg masang kakak iparku hehe). Karpet hijau untuk penanda ruang tamu, lebih sering digulung daripada dihamparkan. Ketika kuhamparkan si karpet, suamiku bilang,"Sayang nanti kotor, digulung aja. Kalau ada tamu baru digelar,".....Wah, padahal rencananya di atas karpet mau diletakkan meja berkaki rendah. Karena karpet ga digelar-gelar, meja jadi lupa dibeli.

Terasa betul deh, menikah itu saling memahami hehe. Setiap hari selalu ada info baru tentang suami yang kucamkan dalam kepala. Hal apa yang dia suka, apa yang dia tidak suka, juga mengenali kebiasaan masing-masing. Misalnya kebiasaan suami naruh barang-barang kecilnya (pulpen, gunting kuku, kunci motor,dll) di anak tangga...ckck...

Awalnya, aku complain. Lama-lama aku terbiasa. Belakangan ini aku malah jadi ketularan kebiasaan suamiku itu. Halah....

Selama empat bulan ini, aku menikmati episode baruku sebagai seorang ibu rumah tangga yang bekerja kantoran. Tentu saja aku masih belajar mengatur waktu seefektif mungkin agar semua urusan beres karena kami hanya berdua di rumah. Semangat!!
  

MENJALANI HIDUP BARU

Tahun Baru, Episode Baru                                             

Rasanya seperti mimpi
Sendiri
Jadi Berdua

Merangkai hari
Dengan kisah
Tawa
Tangis juga

Belajar menerima
Belajar memberi

Sesungguhnya 
Belajar banyak hal
Memperhatikan
Mendengarkan
Mengungkapkan
Menemukan
Mencari
Toleransi
Mengerti
Mengenali
Membagi
Mengingatkan

Saling yang tulus


.....................Pasming, 12.25 am










My Lovely Country




Manado, A view from a hotel

Saturday, December 11, 2010

ROMANTIKA S 604 (PART 4) : TURUNKAN PENUMPANG TANPA RASA BERSALAH

TURUNKAN PENUMPANG TANPA RASA BERSALAH

Para penumpang setia S 604 pasti sudah maklum tabiat bis ini setiap sore: mengoper penumpang semaunya tanpa alasan jelas. Tempat favorit transaksi operan adalah di halte Kalibata dan depan apartemen Nifarro (dahulu Goro). Seringkali juga penumpang diturunkan di depan Carrefour Pasar Minggu. Bahkan pernah di Patra Jasa, Gatot Subroto (sungguh terlalu!). Setelah itu, bis memutar arah kembali menuju Tanah Abang.

Mau tahu berapa rupiah yang didapat penerima operan? Minimal 10 ribu rupiah. Maksimalnya, aku tidak pernah tahu. Bis yang biasa jadi sasaran operan adalah S 62 yang melayani rute Manggarai-Ps Minggu. Atau Kopaja S68 jurusan Kp.Melayu-Ps.Minggu. Ketiganya beririsan di rute Pancoran-Poltangan.

Karena setiap sore harus bersiap dioper (berasa bola,deh), aku berdoa agar tidak saja selamat sampai di rumah, tapi juga berdoa agar Allah melembutkan hati si supir untuk mempertahankan penumpang hingga titik terakhir. Ada juga lho, supir yang tidak bersedia mengoper dan menerima operan penumpang. “Gak, jangan mau,”kata si supir memperingatkan keneknya. Tapi yang begitu hanya satu diantara puluhan supir :-)

Seberapa pasrahnya kita dioper2?

Pernah lho, dua kali seingatku, seluruh penumpang bertahan tidak mau pindah bis. Akhirnya supir menyerah, melanjutkan perjalanan dengan menekan gas kuat-kuat. Ketika ada penumpang hendak turun, dia tak peduli dan teruuus melaju hingga bis tiba depan stasiun Pasar Minggu. Wah, ngambeknya parah juga, tuh..

Selebihnya, penumpang memilih turun tergopoh2 daripada bersitegang dengan supir. Begitu turun, sebagian penumpang mengomel.

“kalo ga mau narik, ngomong dong dari tadi,”

“Kebiasaan,nih! Nurunin seenaknya!

“Mindahin jangan yang ke bis yang penuh dong, jadi desak2an,”

Dan inilah jawaban si supir menanggapi gerutuan penumpang.

“Kalo ga mau desak2an, naik taxi aja. Bayar Cuma dua ribu juga.”

Hiiaaaaat, minta di ketok nih orang. Sabar, sabar…Ga sadar apa kalo dari duit dua ribu itu dia hidup sehari-hari…

Dari ratusan kali aku naik bis ini, hanya dua kali penumpang berhasil bertindak. Selebihnya, penumpang menyerah dengan mudahnya, turun lalu menuju bis operan yang seringkali sudah penuh juga.

Ada satu kejadian lucu, lebih tepatnya mengharukan. Suatu kali di tengah gerimis, penumpang dipaksa turun ketika bis sedang berhenti karena tertahan lampu merah di bawah jembatan layang Pancoran. Seluruh penumpang tergopoh menuju bis operan beberapa meter di depan. Ternyata sang supir keberatan ditumpangi dan berseru pada keneknya,”Jangan mau! Nanti kita ga bisa narik sewa (=penumpang) lagi!” Sementara penumpang operan sudah berada dalam bisnya.

“Uda telanjur, masa disuru balik,” Jawab kenek.

“Bilang aja, ga bisa! Suruh penumpang balik!”

“Kasian,,,ujaan,” Balas kenek. Waaah, baik banget ya…Semoga urusannya dipermudah Allah. Amiin.

“Elu uda gue bilangin, ga percaya,sih. Jangan terima! Uda gue bilang jangan terima, eh elu nerima! Paling-paling kita dapet 10 ribu, tapi jadi ga bisa nerima sewa!”

Ya ampun, sepanjaaang jalan, supir mengulang2 kalimat itu! Padahal kita semua ada dalam bisnya…”Elu susah bener dikasih tahu, gue bilang jangan mau!” Bisa ngebayangin kan, supir ngomong gitu keras2 dari Pancoran sampe aku turun di Stasiun Pasar Minggu sekitar 45 menit kemudian.

Si kenek? Hanya diam, dengan wajah pasrahnya yang tersiram rintik hujan.

Ya Allah semoga rejekinya lancar….

Ternyata selalu saja ada orang yang memikirkan orang lain, ketika sebagian besar lainnya tak peduli.

Saturday, September 4, 2010

ROMANTIKA S 604 (PART 3) : MENGHARAP TAMPILAN BARU S 604

Jakarta dan kemacetan jalannya seperti dua hal yang tak terpisahkan. Makin hari kemacetan makin parah. Mau tahu seberapa parahnya?

Keluar dari kantorku di Merdeka Barat no.17 (Monas)  jam setengah empat sore, langsung naik Metromini S 604 sekitar 10-15 menit kemudian. Tiba di stasiun Pasar Minggu tepat adzan Maghrib bergema. Diperlukan waktu 2,5 jam! untuk jarak yang tidak terlalu jauh. Pada pagi hari jarak yang sama aku tempuh selama 1,5 jam bila berangkat pukul 6 lebih 15 menit. Apabila berangkat pukul 6 tepat, waktu tempuh menjadi 'hanya' satu jam. Namun bila libur Lebaran tiba, jarak dari Stasiun Pasar Minggu - Merdeka Barat ternyata hanya perlu waktu 30 menit......!

Menemukan solusi untuk mengatasi kemacetan Jakarta yang semakin parah, menjadi harapan banyak orang. Sebagai pengguna setia S 604, aku sangat setuju dengan salah satu dari 17 poin yang ditawarkan Pemerintah untuk mengatasi kemacetan : Peremajaan Angkutan.....

Ada dua alasan penting menurutku:

1. Tidak Layak Lagi

Membaca komentar dari seorang penulis di sebuah situs berita membuatku tertawa terbahak. Begini katanya: "Naik metromini seperti masuk ke dalam kaleng karatan".....Analogi yang tepat menurutku. Seringkali aku merasa bukan manusia normal karena mau menumpang (tidak gratis) di kendaraan yang interiornya sudah berkarat. Kalau harus menilai jujur, kendaraan tersebut sudah tidak layak menerima penumpang. Baca di http://nawafil.multiply.com/journal/item/39

Alasan lainnya adalah:

Metromini 604 selalu 'tega' menurunkan semua penumpangnya (sebanyak apapun itu) untuk dioper ke Metromini 62 atau Kopaja 68 dengan memberi sepuluh ribu rupiah ke tangan kenek yang bersedia menerima operan.

Banyak kisah yang kurekam dalam ingatan mengenai 'kekurangajaran' sopir-sopir 604 yang seenaknya 'mengusir' seluruh penumpangnya untuk berbelok jalur ke arah sebaliknya guna mencari penumpang lain demi 'kejar setoran'.Kisah itu akan kutuliskan terpisah di bagian berikutnya,ya... :-)

Semoga rencana Pemerintah untuk meremajakan Metromini dan Kopaja sungguh-sungguh dilaksanakan. Karena penumpang adalah manusia yang harus dihargai sebagai manusia. Penumpang bukan benda mati yang tidak memiliki perasaan! Penumpang membayar untuk bisa diangkut dengan selamat tiba di tempat tujuan!

 

 

 

Monday, August 30, 2010

BANYAK-BANYAKLAH BERSYUKUR (pelajaran No.2 untukku)

Suatu hari aku keluar dari kantor dengan segenap perasaan lelah. Lelah badan dan juga lelah pikiran. Lelah memikirkan tumpukan pekerjaan yang sepertinya tidak ada habisnya. Yang satu selesai, yang lain datang. Badan juga ikut capek karena harus mondar-mandir ke sana ke mari. Entah ya, aku tuh kalo ga mondar-mandir kayaknya ada yg kurang..hehe. Sebenarnya itu terjadi karena aku orang yang ga efisien dan efektif. Uda pegang kertas eh pulpennya ketinggalan di meja. Jadi harus balik lagi ke meja untuk ambil pulpen.Begitulah...Bayanginnya aja uda capek,kan? hahah...

Dulu, ketika aku sempat (membantu) mengajar di Taman Kanak-kanak, yang setiap hari kualami adalah perasaan lelah secara fisik. Murid-muridku di TK adalah anak-anak yang aktif, bahkan ada yang seharian ga bisa duduk 'sedeetikk' aja di kursinya. Kita sebagai guru harus sama lincahnya dengan mereka untuk mengimbangi gerak murid-murid yang sedang belajar tertib di kelas.  Selain itu aku harus mondar-mandir mengantar anak yang mau ke toilet, bergerak ke sana kemari untuk menghentikan anak-anak yang bertengkar, mendamaikan anak-anak yang berebut mainan, bahkan mengajak anak-anak bermain 'ular naga' di jam istirahat. 

Lucunya, capeknya langsung hilang begitu istirahat siang (bobo) di rumah. Lebih lucu lagi, secapek apapun menghadapi anak-anak itu, aku tidak pernah merasa lelah pikiran. Hatiku selalu senang melihat anak-anak yang masih muda usia tapi sudah keliatan akan jadi calon-calon pemuda pemudi yang cerdas. Ada murid yang tidak bisa memegang pensil ketika pertama kali masuk kelas, namun beberapa bulan kemudian sudah menggenggam piala lomba mewarnai gambar antar sekolah. Senangnya....aku saaangaaat terharu waktu itu. "Muridku juara....." hanya itu yang bisa kugumamkan dengan mata berkaca-kaca.

Nah, herannya kalau kerja di kantoran, lelah pikiran itu yang berat. Tidak mau dipikirkan, ya tidak mungkin. Dipikirkan, bikin 'butek' otak. Sampai sesuatu menyadarkanku.

Dalam bis 'jemputanku' si metromini 604, aku duduk di sisi jendela sambil menahan kantuk. Bukan cuma rasa kantuk, tapi rasa lelah yang hebat. Apalagi mengingat ada pekerjaan yang masih harus diselesaikan esok hari. Kepalaku langsung berdenyut-denyut. Kuletakkan kepala menyandar pada kaca jendela. Aku tahu ketika penumpang di sampingku turun, dan segera digantikan oleh penumpang lain. Seorang wanita. Aku hanya melihat sekilas karena otakku sedang berayun-ayun dalam tempurung kepalaku. Pandanganku terarah keluar jendela.

Wanita di sebelahku terdengar berbicara. Sendiri. Dengan volume suara yang cukup untuk dapat didengar seisi bis.Rupanya dia sedang bercakap-cakap di telepon dengan temannya. Kutebak temannya wanita juga dari nama yang disebut wanita di sebelahku. Percakapannya seperti ini:

Wanita X        : Iya, lu tahu kan, gue sendiri juga lagi susah.

                          Harus ngejar target. Tadinya 40 persen naik jadi 60 persen.

                          Gimana coba?

Sang Teman  :**8888^777$320%%%%@@@

Wanita X         : Ortu gue kan pas-pasan. Gue yang nanggung semuanya.

Sang Teman   : >>>>>??)(**88

Wanita X          : Ya uda, ayo kita cari kerja bareng. Lu mau ngelamar ke

                             mana?

Sang Teman    : Was...wis...wus....

Wanita X          : Gue  dapat tawaran. Nyanyi. Mungkin sampe jam

                             1 atau 2 pagi.

Sang Teman   : @@@333$55555

Wanita X         : Uangnya lumayan, lagian cuma sebentar,kok.

                            Cuma nyanyi aja.

                            Dari kantor, gue pulang dulu,mandi terus baru ke sana.

Sang Teman  : Was wis wos....

Wanita X        : Iya, gue yakin gue bisa jaga diri. Tapi gue takut juga. Kalo

                          minuman gue dikasih obat pas gue ke toilet gimana?

Sang Teman   : .....***??+++^

Wanita X         : Gimana lagi. Gue perlu uang. Ini kesempatan.

Sang Teman   : ###2222@@@

Wanita X         : Iya, gue bisa jaga diri,kok.                      

Sembari menahan rasa pusing, otakku pelan-pelan berpikir. Aku menoleh ke kanan. Ternyata, wanita di sebelahku masih begitu muda. Dari pembicaraan dengan temannya soal surat keterangan lulus dan nilai UAN, aku menebak dia baru lulus SMA. Dia menyarankan temannya untuk menggunakan surat keterangan lulus sementara untuk mencari kerja.

Dari percakapan itu juga, kuketahui dia mendapat tawaran menyanyi dari temannya yang lain. Dia juga bercerita bahwa bos temannya itu 'naksir' dirinya.Setelah kulihat sekilas, ternyata wanita X ini cantik. Cocok jadi artis sinetron.

Tanggungjawab pekerjaan kadang melelahkan, fisik maupun mental. Namun, ternyata, aku harus banyak-banyak bersyukur karena sudah mendapat pekerjaan yang baik. Bersyukur karena pekerjaanku aman dari ketakutan-ketakutan yang diresahkan Wanita X.

Semoga dia dilindungi Allah karena berjuang menafkahi keluarganya....

Aku meyakinkan diri, lelahku hari ini  hanya sementara. Toh, hari lain banyak happy-nya juga. Apalagi kalo pas gajian.. .

Aku harus banyak bersyukur, karena nikmat Allah ternyata melimpah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tuesday, August 17, 2010

Romantika S 604 (part 2) : Sebuah Perdebatan

Hari itu (lupa tanggalnya, yg pasti beberapa hari sebelum Ramadhan 1431 H), pulang jam 4.30 sore dari kantor. Untuk naik metro mini langganan, aku harus berjalan kaki dari kantor yang terletak di sebrang Patung Kuda menuju perempatan jalan di ujung gedung Bank Indonesia.

Naik bis dari situ, selalu dapat bangku kosong. Malah bisa memilih-milih mau di bangku yang mana. Kecuali hari Jum'at, tidak akan bisa memilih posisi tempat duduk. Masih ada bangku kosong, sudah untung.

Kali ini bangku kosong hanya ada di baris paling belakang yang muat untuk 5 orang. Aku menyelip di tengah, seperti jari tengah yang datang terlambat dalam barisannya.

Seperti kuduga, jalanan setelah bis memasuki Jalan Sudirman, macet.  Di hari biasanya, ada sekitar 10 orang penumpang yang turun di Stasiun Sudirman sehingga bis agak lengang. Tapi hari ini bis terus menerus menerima penumpang baru hingga memasuki kawasan Gatot Subroto. Sepertinya tak ada penumpang yang berniat turun sebelum bis tiba di ujung rutenya.

Beberapa meter sebelum perempatan Mampang-Kuningan, bis menjadi begiiiitu sesak. Orang-orang yang berdiri di depan wajahku menumpuk. Bis berhenti. Dari luar, berdiri di jalanan, kenek berteriak menyuruh mereka yang berdiri menutup pintu belakang untuk mencari celah ke tengah.

Ternyata ada seorang penumpang wanita yang hendak naik. Ampuuun, mau diselipkan di mana lagi? Seorang penumpang berteriak protes. Sehingga terjadilah debat antara sang kenek dan si Bapak. Kira-kira seperti ini:

Kenek : Kasih jalan. Masuk ke tengah.

Bapak : Geser kaki aja uda ga bisa. Ga muat lagi.

Akhirnya calon penumpang membatalkan niatnya.

Kenek jadi emosi.

Kenek : Geser dong dikit.

Bapak : Geser apaan? Lu aja sini,masuk. Bisa ga? (suara meninggi)

Dari celah yang tersisa, kulihat si kenek pun sangat kesulitan menerobos untuk menagih ongkos.

Kenek : Uda, lu turun aja. Ga usah bayar. (kata-kata ini ditujukan pada si Bapak).

Bapak  : Lho, gue kan uda naik. Hak gue naik. Nih, gue bayar.

Sayangnya, aku ga bisa melihat jelas apakah si Bapak jadi menyerahkan ongkosnya. Yang bisa kudengar, si Kenek berteriak menyuruh si Bapak segera turun.

Kenek : Turun aja lu.

Bapak : Gue turun di sini!

Dengan susah payah si Bapak turun. Terdengar si kenek mencak-mencak. Sepertinya terjadi adu mulut yang belum terpuaskan. Si Bapak berjalan kaki sambil membalas ocehan si Kenek. Bis  jalan merambat seperti siput.  Adu mulut terdengar bersahutan karena keduanya berjalan dengan kecepatan yang sama.

Seumur hidupku, baru kali ini ada kenek bertengkar kata dengan penumpang karena nekat menambah muatan, sementara seluruh penumpang yang lain hanya diam membisu, sepertiku. (Mungkin sudah terlalu lelah ditelan kemacetan).

Namun pertengkaran mulut antara penumpang dengan kenek bahkan dengan supir sering terjadi untuk hal lain. Hal apa itu? Tunggu tulisan berikutnya,ya.

 

 

 

 

 

 

Thursday, August 5, 2010

ROMANTIKA S 604 (part 1)

Ini kisah tentang perjalananku bersama Metromini S 640 (d/h 604)


Metromini warna merah rute Pasar Minggu-Tanah Abang adalah kendaraanku setiap pagi dan petang menuju kantor dan pulang kembali ke rumah. Bis yang tidak terawat.  Perhatikan jendelanya. Ada jendela yang tak bisa dibuka karena dibuat terkunci, atau sebaliknya jendela yang tak berkaca karena telah hancur dan tak berniat diberi kaca pengganti.

Lihat juga besi yang berkarat di seluruh interior dalam bis. Berhati-hatilah dengan setiap bagian bis yang akan Anda sentuh. Pegangan besi di atas kepala ketika penumpang berdiri, bisa lepas sewaktu-waktu. Belum lagi besi di pintu bis yang memiliki permukaan kasar, sanggup membuat tangan Anda terluka penuh darah.

Coba tengok setir di depan supir. Adakah kabel-kabel warna-warni yang berseliweran? Pernah kuperhatikan sang supir harus menyambungkan ujung kabel setiap kali mobil berhenti karena menaikturunkan penumpang. Dan itu dilakukannya sepanjang jalan dengan wajah tak berdosa sambil sesekali menggaruk-garuk kepala plontosnya.

Jangan tanyakan soal kebersihan atau kenyamanan tempat duduknya. Kakiku harus menyesuaikan diri dengan ruang yang begitu sempit diantara tempat duduk.

Ya ampuuun, dengan kondisi seburuk itu, aku tetap setia 'menumpang' dengan menggumamkan berbaris doa yang terus kuulang-ulang hingga turun dari bis.

"Kenekatanku" duduk di dalam metromini baru kusadari setelah sempat dua tahun menikmati nyamannya angkutan umum di Melbourne sana. Sungguh sangat jauh berbeda.

Dan bis inilah yang menemani hari-hariku sejak April 2004 berkantor di Merdeka Barat. Kisah selanjutnya tentang pengalaman menarikku selama bertahun-tahun menaiki 604 akan kutuliskan secara bersambung. Selamat membaca.....

Pasar Minggu, 5 Agustus 2010