Showing posts with label pelajaranhidup. Show all posts
Showing posts with label pelajaranhidup. Show all posts

Sunday, May 29, 2011

KATA-KATA BIJAKKU

Ketika aku masih pelajar SMP, aku memiliki Buku Kumpulan Kata-kata Bijak. Salah satu favoritku adalah ucapan Bung Hatta: "Berusaha mengisi kekurangan adalah keberanian yang Luar Biasa".  Entah mengapa, aku saaangaat 'terpesona'dengan kalimat ini.

Menurutku kalimat itu maknanya dalaam. Sebagai seorang anak SMP, aku berusaha mengartikanya.  Seperti ini: Setiap orang punya kekurangan. Kekurangan itu bisa diperbaiki. Proses perbaikan itu merupakan perjuangan, yang tidak mudah dilakukan.

Kalimat Bung Hatta itu sangat menginspirasiku untuk meminimalisir kekurangan yang kumiliki. Betul=betul sulittt, tapi sesuatu yang sulit, bukan berarti tidak mungkin dilakukan.

Aku sering berpikir, dari mana ya orang-orang memperoleh kalimat-kalimat bijak itu.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, aku MENEMUKAN kalimat bijakku sendiri. Hidup adalah Keikhlasan untuk Bertanggungjawab. Dan baru-baru ini aku kembali menemukan satu kalimat baru : Lebih baik dianggap tidak bisa, tapi sebenarnya kita bisa. Daripada sebaliknya.

Sungguh, perjalanan hidup memperkaya diriku dengan pengalaman-pengalaman.

Monday, August 30, 2010

BANYAK-BANYAKLAH BERSYUKUR (pelajaran No.2 untukku)

Suatu hari aku keluar dari kantor dengan segenap perasaan lelah. Lelah badan dan juga lelah pikiran. Lelah memikirkan tumpukan pekerjaan yang sepertinya tidak ada habisnya. Yang satu selesai, yang lain datang. Badan juga ikut capek karena harus mondar-mandir ke sana ke mari. Entah ya, aku tuh kalo ga mondar-mandir kayaknya ada yg kurang..hehe. Sebenarnya itu terjadi karena aku orang yang ga efisien dan efektif. Uda pegang kertas eh pulpennya ketinggalan di meja. Jadi harus balik lagi ke meja untuk ambil pulpen.Begitulah...Bayanginnya aja uda capek,kan? hahah...

Dulu, ketika aku sempat (membantu) mengajar di Taman Kanak-kanak, yang setiap hari kualami adalah perasaan lelah secara fisik. Murid-muridku di TK adalah anak-anak yang aktif, bahkan ada yang seharian ga bisa duduk 'sedeetikk' aja di kursinya. Kita sebagai guru harus sama lincahnya dengan mereka untuk mengimbangi gerak murid-murid yang sedang belajar tertib di kelas.  Selain itu aku harus mondar-mandir mengantar anak yang mau ke toilet, bergerak ke sana kemari untuk menghentikan anak-anak yang bertengkar, mendamaikan anak-anak yang berebut mainan, bahkan mengajak anak-anak bermain 'ular naga' di jam istirahat. 

Lucunya, capeknya langsung hilang begitu istirahat siang (bobo) di rumah. Lebih lucu lagi, secapek apapun menghadapi anak-anak itu, aku tidak pernah merasa lelah pikiran. Hatiku selalu senang melihat anak-anak yang masih muda usia tapi sudah keliatan akan jadi calon-calon pemuda pemudi yang cerdas. Ada murid yang tidak bisa memegang pensil ketika pertama kali masuk kelas, namun beberapa bulan kemudian sudah menggenggam piala lomba mewarnai gambar antar sekolah. Senangnya....aku saaangaaat terharu waktu itu. "Muridku juara....." hanya itu yang bisa kugumamkan dengan mata berkaca-kaca.

Nah, herannya kalau kerja di kantoran, lelah pikiran itu yang berat. Tidak mau dipikirkan, ya tidak mungkin. Dipikirkan, bikin 'butek' otak. Sampai sesuatu menyadarkanku.

Dalam bis 'jemputanku' si metromini 604, aku duduk di sisi jendela sambil menahan kantuk. Bukan cuma rasa kantuk, tapi rasa lelah yang hebat. Apalagi mengingat ada pekerjaan yang masih harus diselesaikan esok hari. Kepalaku langsung berdenyut-denyut. Kuletakkan kepala menyandar pada kaca jendela. Aku tahu ketika penumpang di sampingku turun, dan segera digantikan oleh penumpang lain. Seorang wanita. Aku hanya melihat sekilas karena otakku sedang berayun-ayun dalam tempurung kepalaku. Pandanganku terarah keluar jendela.

Wanita di sebelahku terdengar berbicara. Sendiri. Dengan volume suara yang cukup untuk dapat didengar seisi bis.Rupanya dia sedang bercakap-cakap di telepon dengan temannya. Kutebak temannya wanita juga dari nama yang disebut wanita di sebelahku. Percakapannya seperti ini:

Wanita X        : Iya, lu tahu kan, gue sendiri juga lagi susah.

                          Harus ngejar target. Tadinya 40 persen naik jadi 60 persen.

                          Gimana coba?

Sang Teman  :**8888^777$320%%%%@@@

Wanita X         : Ortu gue kan pas-pasan. Gue yang nanggung semuanya.

Sang Teman   : >>>>>??)(**88

Wanita X          : Ya uda, ayo kita cari kerja bareng. Lu mau ngelamar ke

                             mana?

Sang Teman    : Was...wis...wus....

Wanita X          : Gue  dapat tawaran. Nyanyi. Mungkin sampe jam

                             1 atau 2 pagi.

Sang Teman   : @@@333$55555

Wanita X         : Uangnya lumayan, lagian cuma sebentar,kok.

                            Cuma nyanyi aja.

                            Dari kantor, gue pulang dulu,mandi terus baru ke sana.

Sang Teman  : Was wis wos....

Wanita X        : Iya, gue yakin gue bisa jaga diri. Tapi gue takut juga. Kalo

                          minuman gue dikasih obat pas gue ke toilet gimana?

Sang Teman   : .....***??+++^

Wanita X         : Gimana lagi. Gue perlu uang. Ini kesempatan.

Sang Teman   : ###2222@@@

Wanita X         : Iya, gue bisa jaga diri,kok.                      

Sembari menahan rasa pusing, otakku pelan-pelan berpikir. Aku menoleh ke kanan. Ternyata, wanita di sebelahku masih begitu muda. Dari pembicaraan dengan temannya soal surat keterangan lulus dan nilai UAN, aku menebak dia baru lulus SMA. Dia menyarankan temannya untuk menggunakan surat keterangan lulus sementara untuk mencari kerja.

Dari percakapan itu juga, kuketahui dia mendapat tawaran menyanyi dari temannya yang lain. Dia juga bercerita bahwa bos temannya itu 'naksir' dirinya.Setelah kulihat sekilas, ternyata wanita X ini cantik. Cocok jadi artis sinetron.

Tanggungjawab pekerjaan kadang melelahkan, fisik maupun mental. Namun, ternyata, aku harus banyak-banyak bersyukur karena sudah mendapat pekerjaan yang baik. Bersyukur karena pekerjaanku aman dari ketakutan-ketakutan yang diresahkan Wanita X.

Semoga dia dilindungi Allah karena berjuang menafkahi keluarganya....

Aku meyakinkan diri, lelahku hari ini  hanya sementara. Toh, hari lain banyak happy-nya juga. Apalagi kalo pas gajian.. .

Aku harus banyak bersyukur, karena nikmat Allah ternyata melimpah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saturday, June 13, 2009

My Secret Identity

            I grew up in Jakarta, the capital city of Indonesia. Jakarta is a miniature of Indonesia since you can find various Indonesia’s ethnic groups in this city. I am a product of mix-marriage ethnic background. Understanding my cultural background is my long ‘secret’ search for identity. In my elementary school, I have a teacher who liked to ask the students to raise their hands when responding to the same questions about our original ethnicity. “Who are Javanese? Who come from Padang? Whose parents from Batak?” Nearly of my schoolmates’ parents come from the same ethnic group that they can easily classify their original ethnicity by referring to their parents’ ethnic identity. I never raised my hand since I did not know who I am. One of my friends suggested me to choose one of two. “How about Manadonese? We already have many Javanese in our classroom. There is not a Manadonese yet. If you choose Manadonese, it would make our classroom complete”.  It was a good suggestion, wasn’t it?  But, I said I could not because it would be unfair for my parents. In addition, I am not both Javanese and Manadonese since I did not know their culture. I look like neither a Manadonese nor Javanese. I cannot even speak the languages.  My parents never taught me their language. If language and physical features can be considered as visible ethnic identity, I did not have them. I look more Chinese and only speak Bahasa Indonesia. Since that, I tried to learn about my parents’ language by my own observation.

            My identity search ended when my college friend gave me a new perspective. Instead of choosing one ethnic group, I am actually part of both Java and Manado. He said “I only know Sundanese culture since my parents are Sundanese and I grow up in Sundanese area. You are luckier than me because you have two cultural roots and live in a multicultural neighborhood. You have chance to learn and understand many cultures.”

Saturday, March 7, 2009

SEEKOR KAKI SERIBU DI LANTAI TOILET

Pernahkah memperhatikan gerak gerik binatang yang membuatmu memahami sesuatu yang berkaitan dengan hidupmu? Aku sering mengamati kucing, yg ternyata punya sifat2 mirip manusia. Ada yg anggun dan lembut, galak, setia. Ada juga yang terlihat sangar dan culas. Tapi baru satu kali aku memperhatikan tingkah laku binatang yg memberiku pelajaran lain.

Aku sedang terpekur di toilet duduk  ketika seekor kaki seribu berjalan di lantai dengan gerakan perlahannya. Aku terpaksa memperhatikan karena tidak pernah menemukan hewan kecil di rumah kos-ku ini. Satu2nya hewan kecil yg pernah kulihat berkeliaran hanyalah semut. Itu pun hanya di musim panas dan hanya di meja dapur.Jadi, kehadiran seekor kaki seribu di ruang sempit dan di saat aku harus duduk diam, menyita pandanganku.Aku harus memata-matai gerak geriknya.

Kaki seribu melangkah menuju pintu hendak keluar ruangan. Syukurlah, jadi aku tak perlu was2 dia akan "mengganggu"ku. Saat si kaser sampai di pertengahan jalan, dia terhempas. Awalnya aku tak tahu penyebabnya. Ternyata itu terjadi karena angin berhembus dari kipas di langit2 toilet, setiap kali aku menekan tombol flush. Berkali-kali kaser terpental sehingga aku berinisiatif membantunya lebih cepat tiba ke rongga kecil di bawah pintu. Aku menggeser kaser perlahan dengan gerakan sandalku. Ya, berhasil. Namun dia kembali terhempas ke dalam toilet. Kali ini oleh hembusan angin dari pintu belakang rumah yang kebetulan satu arah dengan pintu toilet.

Aku jadi bertambah iba pada nasib si kaser. Kok, hanya mau menuju pintu saja sulitnya setengah mati. Langkah satu demi satu yg ditempuhnya terlibas hanya dengan sekali tiupan angin. Namun, kaser tidak berhenti. Dia terus maju menentang angin. Seperti apapun dia terpelanting, kepalanya selalu mengarah kembali ke pintu. Setiap kali terpental, dia selalu kembali ke posisi semula dan maju tanpa gentar.

Kejadian kecil ini mengingatkanku untuk terus berjuang walau kesulitan menghadang. Manusia punya otak, kaki seribu? Dia harus berjuang sendiri, mati-matian hanya untuk menjangkau celah pintu yang jaraknya hanya 30 sentimeter. Manusia bisa mencari orang lain untuk membantunya saat menghadapi masa sulit. Hidup tidak sesulit yang kita kira,kan?

JANGAN PERNAH MENYERAH (pelajaran no 1)

Sejauh yg sanggup kukenang, sejak Taman Kanak-kanak hingga lulus SMA, hidupku damai.Terlalu damai menurutku, hingga mungkin terkesan datar buat orang lain. Namun semuanya berubah ketika masa perkuliahanku di Bandung mengisi ruang dewasaku.

Ada beberapa momen yg membuatku menyadari bahwa hidup adalah sebuah anugrah yg harus diperjuangkan. Hidup bukan lagi sekedar hidup. Hidup bukan lagi sekedar menapaki langkah, "dari SD ini aku akan sekolah di SMP itu. Setamat SMP aku harus sekolah di SMA itu, Aku akan ambil jurusan Jurnalistik.." 

Hidup tidak lagi sesempit itu. Hidup punya lorong2 lain yang harus kuisi. Dan inilah sebagian kisah yang kuperoleh dalam memahami anugrahNya. Sebuah pelajaran pertama: Jangan pernah menyerah.

"Dua tahun lalu, aku memperoleh kesempatan beasiswa dari kantor untuk menempuh S2 di Australia. Proses persiapan berjalan sangat cepat, diburu2 waktu dan target, sementara pekerjaan di kantor tidak bisa begitu saja ditinggalkan. Pada sebuah titik, aku merasa tak sanggup lagi berlari. Aku ingin menyerah. Sebuah cara mudah untuk menghindari kesulitan2 baru di depan sana.

Sore itu, aku berdiri di tepi jalan raya, menunggu metro mini yang akan mengantarku dari tempat kursus Inggris ke rumah damaiku. Letupan2 listrik negatif menari2 di otak lelahku. Aku mengeja hal2 yang akan terjadi setelah hari ini, kerepotan yang akan mengungkung hari2ku, kekecewaan dan semua bayangan2 serba buruk rupa muncul tanpa ragu.  Sebuah ide konyol yg waktu itu aku anggap akan melegakan, tiba2 terlintas. Aku akan mundur dari "kerepotan" ini dan memilih berkonsentrasi penuh pada pekerjaan kantor. Besok aku berencana menghadap bos nya bos untuk menyampaikan niatku. Tapi sebelum itu, aku akan meminta pertimbangan ortu dulu.

Semua seolah terselesaikan dalam sekian menit di tepi jalan, ketika tiba2 saja sesuatu melintas nyata di depan mataku dan merubah segala rencana.

Seorang bapak berjalan menarik sebuah papan luncur. Di atas papan itu, terbaring telungkup seorang anak lelaki usia SD. Ini kukenali dari seragam batik dan celana pendek merahnya. Anak itu tak berlengan dan tak berkaki. Sebenarnya sering kali aku melihat pemandangan ini. Bapak yg sama dan anak yg sama di sore hari sepulang kantor, melintas di Jl.Gatot Subroto. Biasanya aku menyaksikan pemandangan itu dari atas bis jemputan kantor.

Kali ini apa yg kusaksikan tidak lagi sama karena sesuatu. Anak lelaki itu menghadapi sebuah buku tulis, membacanya.... Tahukah dengan apa dia-yang tak bertangan, membalik lembar2 bukunya?   Ya, dengan dagunya....

Seseorang yg tidak sempurna secara fisik, tapi tetap semangat belajar. Kenyataan ini menamparku, sangat keras, tepat di otakku. Ya Allah...betapa tidak bersyukurnya aku...yg masih memiliki tangan dan kaki...ingin menyerah pada sebuah kesempatan belajar gratis.

Aku takkan menyerah semudah ini....sangat memalukan....Allah telah menjadikan anak itu hadir untuk mengingatkanku. Hidup adalah sebuah perjuangan...dan perjuangan tidak pernah mudah..namun perjuangan juga tidak sesulit yang aku bayangkan. Perjuangan perlu sebuah semangat...untuk tidak menyerah.

Sebuah kartu ucapan yang pernah kubaca di sebuah toko buku, menulis begini:

Kita bisa kehilangan uang

Kita bisa kehilangan teman

Tapi satu hal

Jangan pernah kehilangan semangat