Saturday, June 13, 2009

My Secret Identity

            I grew up in Jakarta, the capital city of Indonesia. Jakarta is a miniature of Indonesia since you can find various Indonesia’s ethnic groups in this city. I am a product of mix-marriage ethnic background. Understanding my cultural background is my long ‘secret’ search for identity. In my elementary school, I have a teacher who liked to ask the students to raise their hands when responding to the same questions about our original ethnicity. “Who are Javanese? Who come from Padang? Whose parents from Batak?” Nearly of my schoolmates’ parents come from the same ethnic group that they can easily classify their original ethnicity by referring to their parents’ ethnic identity. I never raised my hand since I did not know who I am. One of my friends suggested me to choose one of two. “How about Manadonese? We already have many Javanese in our classroom. There is not a Manadonese yet. If you choose Manadonese, it would make our classroom complete”.  It was a good suggestion, wasn’t it?  But, I said I could not because it would be unfair for my parents. In addition, I am not both Javanese and Manadonese since I did not know their culture. I look like neither a Manadonese nor Javanese. I cannot even speak the languages.  My parents never taught me their language. If language and physical features can be considered as visible ethnic identity, I did not have them. I look more Chinese and only speak Bahasa Indonesia. Since that, I tried to learn about my parents’ language by my own observation.

            My identity search ended when my college friend gave me a new perspective. Instead of choosing one ethnic group, I am actually part of both Java and Manado. He said “I only know Sundanese culture since my parents are Sundanese and I grow up in Sundanese area. You are luckier than me because you have two cultural roots and live in a multicultural neighborhood. You have chance to learn and understand many cultures.”

Saturday, June 6, 2009

.....di Ujung Hari

Dunia yg sementara

Menarikku dalam pusaran

Terhempas 

Bertahan

Kemudian menyerah

 

Hingga ujung hari

Mengantarku

Mengeja masa lalu

Dan menemukan

 

Ada jejak terlupa

Bisu menggugah

Menjadi jawab

Dari tanya

Berbaris waktu

 

Kini tiba

Saat berlari

Merengkuh pusaran baru

Yang mendamaikan

 

(Coburg, 3.50 pm)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tuesday, May 5, 2009

Bedanya kuliah di Jatinangor (1992-1999) dan di Melbourne (2007-2009)

Jatinangor :

Naik bisnya rebutan. Yg mo turun ga bisa turun karena yg mo naik lebih garang. Gosipnya, pintu depan buat yg turun,pintu belakang buat yg naik. Tapi ternyata dua2nya diserobot sama penumpang yg mo naik bis. Kalo perlu, pintu supir juga jadi pintu masuk. Jarak satu jam yg lancar lebih enak dihabiskan dengan duduk sambil ;ngobrol sm temen sebelah (kalo kebetulan kenal), menghafal urutan pemandangan di luar jendela, atau tertidur pulas. Jadi, apapun caranya harus dapet tempat duduk. Yg ngeselin,ketika kita berhasil dengan selamat menerobos naik, tempat duduk kosong sudah di'tek' orang buat temennya yg belum naik. Lha...prinsip siapa cepat dia dapat jadi ga berlaku...

Melbourne:

 Yg mo naik, antri membentuk barisan. Begitu pintu bis atau tram terbuka, penumpang yg turun diberi kesempatan lebih dulu. Kalo sudah naik, belum ada bangku kosong, berdiri juga ga apa2. Lucunya, setiap ada penumpang turun, bangku yg ditinggalkan kosong tidak langsung diserobot. Orang2 yg terdekat akan saling menawarkan satu sama lain, siapa yg mo duduk. Aku pasti menawarkan diri duluan heheh...itu kalo ga ada org yg lebih tua or pas bawaanku lagi berat.

Jatinangor :

Dari kuliah yg satu ke kuliah lain, masih bisa duduk2 santai bergerombol di pojokan, makan bakso malang bareng2. Di dalam kelas masih bisa ngobrolin hal2 di luar kuliah sama temen sebelah (terutama utk mata kuliah umum,yg dua jurusan digabung jd satu kelas).

Tidak sopan makan di kelas, kecuali ngemut permen. Tidak keluar kelas sebelum dosennya mengakhiri kuliah.

Pakaian harus berkerah supaya ketahuan niat kuliah.

Melbourne:

Kelasnya minimal 20 orang, jadi ga ada waktu buat ngobrol ngalor ngidul. Selalu diisi dengan diskusi, mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain sekalipun berbeda dgn pendapat kita. Waktu istirahatnya sebentar banget. Makan ga bisa santai, harus buru2. Kadang2 terpaksa ngunyah sambil jalan.

Boleh makan apel atau coklat selama diskusi di kelas. Kaki bebas, mo dilipat, atau mo diselonjorin ke kursi kosong di sebelah.

Pakaian bebaaass....tapi karena umumnya berangkat kuliah dari kantor, pakaiannya ya pakaian kerja. Ga resmi, cenderung kasual, and jaketan karena udaranya lebih sering dingin drpd anget. Maklum, kuliahnya sore-malam.

Kalo uda waktunya selesai,dosen masih ngomong, tinggalin aja kelasnya. Kalo lagi ada keperluan, hadir sebentar aja, terus pamit di tengah2 kuliah. Dosennya ga apa2 (*ga pernah nyoba kayak gini, perasaan ga sopan,deh. mending ga usah masuk kuliah aja sekalian heheh*)

Jatinangor :

Ke perpusnya jarang2. Paling banyak minjem buku berapa ya?? dua?? tiga?? lima??

Melbourne :

Hampir tiap hari ke perpus kayak ga ada tempat lain aja. Minjem buku selalu banyak,padahal satu semester cuma empat mata kuliah. Pernah ga bisa minjem gara2..."Kamu uda minjem sampai batas maksimal, 30 buku"...Ha??? (*ga nyadar uda minjem sebanyak itu*)

Jatinangor :

Belum ada HP, janjian ketemu teman di perpus, mesti nunggu atau membuat temen menunggu dengan sabar. Ga bisa ngecek dan dicek, "udah sampai mana?"

Bikin janji sama dosen via telepon koin.

Melbourne :

Janjian ketemuan dosen via student e-mail. Kalo alokasi waktunya cuma 15 menit, ya 15 menit kemudian harus go out dari ruangannya.

Apalagi ya?? Entar,deh diinget2 dulu...atau ada yg mo nambahin...? Sebenarnya perbandingannya ga setara. Tapi,lumayan lah buat analisa sederhana heheh...

(tulisan ini dibuat saat stres nyelesain essay)

 

 

Tuesday, April 28, 2009

Someone stolen my backpack (Kehilangan Pertamaku)

Someone stolen my bag! I can't believe it.

I was sitting at Subway with Mba Ary. We are having a cup of hot chocolate after having a busy day. Actually, we wanted to go home right away, but we need to drink something hot in the cold weather. We usually take the hot chocolate with us and drink it on the tram.

But, we decided to have it there.  A man sat on our favourite place, near the cashier. So we found another place.I put my backpack on the floor on my left side. Mba Ary sat on my right side. I put my Coles bag between me and mba Ary. Each of us take one backpack and one Coles bag. The two bags was full of foods. We need lot of foods for along this week.

We sat before the window, watching people passed through. Some  of them are my classmates. I think they have another class that night. From that window, we can see trams come and go. Our number 1 tram just come. "We can't catch it," Mba Ary said.

"We can wait for the next tram," I replied.

We're preparing to catch the next tram, when I realize my bag has gone.

"Mbak! My bag has gone."

I told the waiter that someone stolen my bag. I asked for the waiter to see the CCTV. Then the manager come to see me. He said," The CCTV does not cover the area where you sat on."

Mba Ary said, "I remembered the woman sat beside you," 

"She is a homeless I guess, because her cloth is dirty. She did not buy anything. She is just sat and watched over us."

Fortunately, I kept my wallet and cellphone in my jacket.

Mba Ary accompanied me to make a report to the police. The nearest police station is on the Flinders Train Station. We took tram and got off at the fourth stop. There is no one, so we went to the other police station in Flinder Lane.

This is my first experience losing property. I met some pickpockets several times on my way to the office in Jakarta, but nothing bad is happened to me. But I lost my backpack, for the first time,here in Melbourne. It's not as safe as I thought before.

Today, I made a report to the campus library. I lost three library books, my keys house, and student card. The other things is my coin wallet and 50 dollar note.

I told my landlord, Robert about this. I also told him that I wrote down my address on an envelope. The envelope was for my lecturer feedback on my essay. But, her staff said that they did not need it. So, she gave the envelope back to me.

Robert said, he will come to the house and change the front door lock.

I hope everything will befine. I need to buy a new bag,but I am not feeling well today.

 

 

Thursday, April 23, 2009

The Racial Prejudice : When you have to change your name

Ini salah satu pengalaman yang menarik menurutku selama hampir 2 thn belajar di Melbourne. Di sebuah kelas Human Rights, aku duduk bersebelahan dengan teman pria dari Cyprus. Namanya Jamal. Baru kali ini aku duduk persis di sebelahnya.

Dia mengangsurkan daftar hadir ke depanku. Setelah menandatangani lembar absensi, aku meletakkan daftar nama2 itu ke meja kosong di sisi kiriku. Sekilas kucek nama2 teman sekelas. Sulit buatku menghafal nama2 orang asing. Aku tidak tahu, yg mana yg Claire, yg mana yg namanya Jenny. Lalu, teman yg kerja di Victoria Police itu,namanya siapa ya?? Michael atau William??

Lalu aku mencari nama Jamal di lembar absensi. Namanya mudah diingat. Kucari nama berawalan 'J'. Hmm, tidak ada. Lalu kucari nama belakang berawalan 'J', walau rasanya ga mungkin karena kita biasa memperkenalkan diri dengan nama depan. Hmm, ga ada juga. Karena penasaran, aku menarik lembar itu dan menanyakan langsung pada Jamal. Kita ga pernah ngobrol sebelumnya, jadi ini untuk latihan ngomong juga..heheh..

"What is your name?"

"I am Jamal"

"Hm, I can't find your name here' (aku menunjuk daftar absen)

"This one is my name" (Jamal menunjuk sebuah nama berawalan 'C')

"Camal???" (Aku berkata ragu)

Lalu mengalirlah kisah itu. Jamal merubah huruf depan namanya karena alasan prasangka rasial. Dia tidak ingin namanya yg identik dengan nama muslim membuatnya mendapat perlakuan yang tidak baik dari orang2 setempat. Namun, masalah baru muncul.Kadang2 orang bingung bagaimana mengucapkan nama 'Camal'. Mereka (Australian boys-Jamal said) akan mengolok-oloknya dengan panggilan "Camel".

Aku bersedih dan bersyukur pada saat yang sama. Aku tidak perlu merubah namaku. Aku tidak mengalami masalah 'mendapat perlakuan yang berbeda' karena identitasku. Banyak sekali mahasiswa/i dari Arab Saudi dan negara muslim lainnya yang menuntut ilmu di Melbourne. Orang2 Arab atau wanita2 berkerudung sangat terlihat jelas identitasnya sebagai muslim. Mereka tidak merubah nama mereka. Tapi aku tidak tahu, apakah mereka pernah mengalami pelecehan karena identitas muslim mereka.

Berita mengenai pelecehan karena soal rasial hanya aku baca dari milis. Berarti racial prejudice itu memang ada. Namun tidak pernah kulihat terjadi terang2an. Aku hanya berharap sisa waktuku di Melbourne berjalan baik2 saja. Sejauh yang aku alami, teman2 sekelasku baik2, dosen2ku juga baik2 dan peduli. Seringkali, bila aku berpapasan dengan orang asing di jalan,mereka menyapaku ramah sambil tersenyum,"good morning".

Melbourne adalah melting pot. Tempat pertemuan berbagai bangsa. Melbourne kota yg aman, namun siapa pun harus tetap waspada terhadap isu kebencian rasial yg bisa meledak kapan saja. Insya Allah aku akan menulis tentang multiculturalism di Melbourne. Have a nice day...

Monday, April 20, 2009

Mengejar Tram no.1 (East Coburg-South Melbourne Beach)

Setelah 6 bulan selalu naik kereta dan bus dari city ke tempat kos, akhirnya harus ganti suasana perjalanan. Mulai pertengahan Februari 2008, karena pindah kos, transport utamaku adalah tram, no.1 dgn rute East Coburg-South Melbourne Beach.

Tram no.1 modelnya agak kuno, dibanding tram2 lain misalnya,jurusan Melbourne University yg lebih canggih. Kalo lagi nunggu tram dari city menuju kos, aku bisa menandai tram yg datang. Kalo tramnya bagus, berarti bukan jurusan Coburg .

Ada beberapa halte di city yg memiliki papan elektronik penunjuk waktu kedatangan tram yg real-time. Jadi, ga repot celingak-celinguk. Tinggal duduk di bangku halte setelah memastikan waktu kedatangan. Di layar akan tertulis, no tram, jurusan dan menit kedatangan. Kalo terpampang angka 10, berarti tram akan tiba di halte tersebut 10 menit lagi. Setiap menit, waktu tersebut akan berubah hingga muncul tulisan "now". Berarti tramnya uda di depan halte persis. Hati2 juga, kalo keasyikan ngobrol sama teman, malah ga nyadar tramnya uda di depan mata...hahah...

Beberapa halte lain punya jadwal tetap tram yg terpasang di tiang halte yg menunjukkan jam berapa tram tiba di halte tersebut.Tram biasanya datang tepat waktu, kecuali ada masalah seperti ada tram yg mogok sehingga menganggu jalur tram lain. Masalah seperti ini, seingatku jaraaaang sekali terjadi.

Jarak dari kampusku yg terletak di tengah kota dengan tempat kos antara 20 sampai 30 menit. Jadi, kalo kuliah mulai pukul 5.30 sore, satu jam sebelumnya, aku akan keluar dr rumah. Sebenarnya jadwal tram bisa dihafalkan, jadi kita ga nunggu tram kelamaan di halte atau malah ketinggalan tram. Bisa dihitung dgn jari tangan, berapa kali aku dan mba Ary lari2 karena dengar suara tram yg mendekat di ujung jalan. Karena tertutup oleh bangunan rumah, kita berdua ga bisa langsung melihat ke jalur tram kalo belum tiba di ujung perempatan jalan.

Halte tram selalu terletak di perempatan jalan, karena jalur2 kota Melbourne bentuknya teratur banget, gridline gitu. Waktu masih tinggal di kos lama di Oakleigh East, arah kedatangan bus bisa terlihat karena tidak ada penghalang pandangan. Sebuah lapangan sekolah yg luas membuatku bisa melihat kedatangan bis dari jauh sehingga bisa menyesuaikan kecepatan dengan berlari. Biasanya kalo kita ga terlalu jauh, supir bis mau menunggu. Apalagi supir tram. Mereka umumnya mau menunggu penumpang yg terlihat berlari2 setengah mati. Kalo sudah seperti itu, kita akan mengucap "thank you" ke supirnya begitu berhasil mendarat dengan selamat di dalam tram.

Pernah aku lihat, perempuan muda, sepertinya mau kuliah, lari2 ke arah halte. Tram sudah melewati dia dan akan berhenti beberapa detik lagi di halte, tepat di perempatan jalan. Seorang teman lelakinya yg ada dalam tram, memberi semangat kepada perempuan itu agar tak berhenti berlari. "C'mon....C'mon.." Kebayang ga di tengah udara dingin, berlari sekencangnya agar tidak ketinggalan tram. Jatuh iba deh pokoknya, tapi semua yg melihat ga bisa bantu apa2. Perempuan itu berlari hingga syal panjangnya yg berwarna putih terjatuh di tepi jalan. Dia sdh ga sempat lagi mengambil syalnya. Setiap detik menjadi begitu berharga. Berhenti ambil syal atau ketinggalan tram...Cuma itu pilihannya. Aku sangat berharap, ada beberapa penumpang lain di halte sehingga bisa menahan keberangkatan tram. Kepalaku memutar ke belakang, mengharap perjuangan gadis itu tidak sia2. Hap! Akhirnya, dia berhasil menjangkau pintu tram dengan terengah2. Aku ikutan lega. Rasanya aku ikut berlari juga. Ampun deh. Sementara syalnya tergeletak begitu saja di kejauhan. Terpaksa diabaikan..